Perjaya akan Dijadikan Sumber Energi Listrik


Lokasi Bendungan Perjaya yang berlokasi di Desa Perjaya Kabupaten OKU Timur akan menjadi sumber energi listrik tenaga air.
Hal itu diungkapkan PT Perjaya Bravo Energi (PBE) yang melakukan pertemuan di Gedung Pertemuan Bappeda, Rabu (22/2/2012).
Paparan yang dilakukan oleh PT PBE itu dihadiri oleh Direksi PT PBE Sugiantoro.
Hal itu terungkap dalam paparan yang dilakukan PT PBE yang dihadiri oleh direksi PT PBE Sugiantoro.

Sumber  : OKU Timur News

Air Terjun Kambas


 

Tim Ekspedisi Gua Harimau Sripo yang melanjutkan penjelajahan, Senin (20/2/2012), akhirnya berhasil tiba di lokasi Air Terjun Kambas di Desa Ulak Lebar Kecamatan Ulu Ogan Kabupaten OKU.

 Beberapa anggota tim ekspedisi langsung terjun dan mandi ke air terjun yang terdiri dari tiga tingkatan (level).
Dari informasi yang dihimpun Sripoku.com, air terjun tiga tingkatan dengan ketinggian lebih dari 50 meter tersebut merupakan salah satu objek wisata andalah kabupaten OKU.
Sayangnya, meski jalan menuju lokasi sudah diperkeras, namun kendaraan belum bisa melintas karena belum adanya fasilitas penyeberangan.
Selain itu, pengelolaan yang belum maksimal membuat air terjun tersebut kurang diminati wisatawan karena lokasinya yang belum dikelola dengan sempurna.
Dalam penjelajahan kali ini, tim ditemani Kabid Kebudayaan Disdikporabudpar Kabupaten OKU, Firdaus dan Pengelola Gua Putri Heri.
Sumber :  OKU Timur News

Asal usul suku Komering


Kehidupan masyarakat komering berpusat disekitar Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Daerah ini dikenal dengan nama Sakala Berak terletak di daratan tinggi kaki Gunung Pasagi dan Gunung Seminung tempat Danau Ranau berada. Secara harfiah, kata Sakala atau Sagala berarti Komering sedangkan kata Berak berarti luas. Sehingga daerah sekitar itu disebut masyarakat setempat dengan nama Komering yang luas.

Nenek moyang orang komering diperkirakan berasal dari Tiongkok Selatan, pada ribuan tahun yang lalu turun ke laut melalui sungai-sungai besar di Cina yang bermuara ke selatan. Akhirnya mereka tersebar di beberapa wilayah Sumatera Selatan, Lampung dan Sumatera Utara sekarang ini. Sehingga tak mengherankan bila sering terlihat suatu persamaan di dalam gerak dan tingkah laku antara orang Komering, Lampung dan Batak. Bahkan ada faham yang dibenarkan dalam kehidupan masyarakat itu bahwa mereka berasal dari tempat dan keturunan yang sama, hanya saja lambat laun sikap dan pertumbuhan makin memisah mencari jalan sendiri-sendiri.

Seperti kehidupan dan adat istiadat daerah lain, masyarakat Komering dan Lampung juga menjadikan suatu tempat yang dianggap keramat (dihormati) itu adalah sekitar Kota Liwa (ibukota Kabupaten Lampung Barat sekarang ini). Dari daerah asal itu lambat laun nenek moyang menuruni gunung dan lembah menyusuri beberapa sungai yang bermuara di laut Jawa. Orang Komering turun hingga ke Muara Masuji dan Sugihan. Sedangkan orang Lampung menyusuri Sungai Tulang Bawang, Seputih dan Sekampung yang akhirnya membentuk golongan masing-masing sampai ke Gunung Raja Basa.

Ribuan tahun kemudian barulah daerah-daerah yang mereka huni dan terisolir muulai terbuka, sehingga timbul hubungan dan komunikasi dengan dunia luar. Terbukanya daerah ini karena adanya aktifitas dari kerajaan-kerajaan yang ada. Kerajaan ini sendiri timbul karena terjadinya hubungan komunikasi antara masyarakat yang datang dan menetap.

Pada masa itu agama dan faham yang dianut oleh masyarakat adalah kepercayaan pada yang gaib-gaib dan yang maha kuasa (Animisme dan Dinamisme). Termasuklah di dalamnya menyembah kepada matahari, bulan, bintang-bintang dan gunung-gunung bahkan menyembah makhluk-makhluk yang dipercayai ada di sekitar manusia. Beberapa masa kemudian masuklah pengaruh dan ajaran agama Hindu dan Budha yang lebih mempercepat tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar dan kecil. Hingga akhirnya masuklah pengaruh dan ajaran-ajaran dari Jawa dan Agama Islam.

Didalam kehidupan budaya adat Komering dan Lampung sendiri dikenal suatu adat yang dikenal dengan Adat Penyimbang. Menurut pengertian aslinya berasal dari kata Simbang yang artinya giliran atau gantian, sehingga di sebutlah dengan arti giliran memimpin. Jadi dalam adat penyimbang seseorang dapat memimpinsesuai dengan adat yang berlaku, namun kedudukannya sebagai pemimpin kelak akan diganti dengan yang lain sesuai dengan musyawarah dan mufakat.
Hingga kini gelar penyimbang itu terus dipakai oleh orang Komering. Umpamanya ada nama penyimbang Ratu, penyimbang Tulin, penyimbang Marga serta gelar-gelar lainnya. Hal ini diberikan sesuai dengan rapat adat yang diadakan bila seseorang memasuki jenjang pernikahan. Gelar itu hampir mutlak diperlukan bagi setiap laki-laki Komering yang memasuki jenjang pernikahan. Kalau gelar itu tidak dimilikinya maka keturunannya agak gelap, artinya ia tidak mempunyai kedudukan dalam lapangan adat.

Adat istiadat yang ada kemudian secara berangsurangsur masyarakat Komering penduduknya memasuki lapangan usaha dan kegiatan masing-masing. Diantaranya ada golongan yang pada umumnya lebih cakap dalam bidang pemerintahan untuk mengurusi kepentingan umum. Ada pula yang ahli dalam bidang kebatinan dan keperkasaan dengan tenaga-tenaga gaib. Bahkan ada yang hanya mengurusi soal agama semata-mata serta ada yang ahli dalam soal berniaga.

Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat timbul apa yang dinamakan suku. Suku-suku yang terbentuk dalam golongan itu adalah: pertama, golongan pemerintaha yang menyebut lingkungannya dengan nama Suku Serba Nyaman. Kedua, golongan kebatinan disebut Suku Anak Putu. Ketiga, golongan Pasirah atau Kepala Marga disebut Kampung Pangiran. Keempat, golongan pengusaha dan pedagang disebut Suku Busali. Kelima, golongan Agama disebut Suku Kaum. Keenam, Suku Kampung Darak, dan yang ketujuh, Suku Karang Diwana.

Ketujuh suku atau golongan di atas membentuk masyarakat bersama yang teratur, mereka membentuk tiuh atau dusun tempat tinggal. Akhirnya mereka membuat pucuk pimpinan yang lebih besar gabungan dari dusun-dusun itu yang disebut Marga sekarang disebut dengan Kecamatan. Dulu nama Kecamatan adalah Semendawai kemudian sekarang diganti dengan Kecamatan Cempaka.

Sumber :  cp 3

Januari 2012, Tunggakan Pelanggan PLN Martapura Rp 1,3 Miliar


Hingga bulan Januari 2012, tunggakan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Martapura mencapai Rp 1,3 miliar.

Demikian diungkapkan Kepala PLN Martapura Basri Abdurrahman.
Jumlah tersebut kata Basri mengalami kenaikan dari tahun lalu yang hanya mencapai Rp 1,04 miliar.
“Kurangnya kesadaran masyarakat dalam melunasi tagihan PLN mengakibatkan tunggakannya terus bertambah,” ungkapnya.
Sumber :  OKU Timur News

Suku Komering


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tiga gadis Komering (1929)
Suku Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga:
“Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako”.

Terjemahannya berarti “Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung (abad 15) di Minangkabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa”.

Sumber : http://id.wikipedia.org/

OKUT Hasilkan 30 Ribu Ton Patin


Kabupaten OKU Timur setiap tahun mampu menghasilkan lebih dari 30 ribu ton ikan air tawar jenis patin. Dari jumlah tersebut, ternyata Dinas Peternakan OKU Timur mengaku kesulitan dalam memasarkannya.

Hal itu diungkapkan kepala dinas peternakan dan perikanan OKU Timur Alief Yulianto, Rabu (8/2/2012).
Untuk menyiasati pemasaran tersebut kata Alief, pihaknya melakukan pemaksimalan pedagang. Sementara untuk pelanggan diakuinya sudah mulai normal.
“Jumlah tersebut baru hitungan pesimis, kalau riilnya jauh lebih diatas itu. Kita memang kesulitan memasarkan, namun dengan memaksimalkan pelanggan dan pedagang, semua bisa terkendali,” ujar Alief.
Sumber :  OKU Timur News