Pemimpin Harapan


April 13, 2009 oleh batumarta6

merapi5Anda mungkin tahu atau pernah tahu tentang nama nama pemimpin tanah jawa atau nama raja raja jawa yang di hubungkan dengan tanah atau bumi ,seperti Mangkubumi (Memangku Bumi) , Pakubuono ( Paku atau Pusat Alam Semesta ) , Paku Alam ( Pusat Alam semesta ) sampai Hamengku buono (Memangku Alam Semesta) , yang semua nya dimaknakan sebagai pengelola bukan penguasa.

Makna yang disiratkan dari nama nama pare pemimpin Jawa tersebut bukan sebagai pemimpin yang menguasai namun lebih pada pengelolaan atas tanggung jawab nya sebagai pemimpin, jadi sebagai pemimpin bukan lantas seenaknya sendiri memerintah dan memaksakan kehendak Otoritasnya

Masih lekat dalam ingatan kita tentang siapa Mbah Maridjan ?
Kemudian kira kira seperti apa makna yang tertangkap ketika mendengar cerita tentang Mbah Maridjan
yah mesti sangat lah santer mengalir cerita cerita yang heroik ,perkasa ( Roso rosa),berani, sedikit campur nekad, serta di anggap membangkang terhadap perintah penuasa serta para ilmuwan pada saat merapi mengeluarkan lahar panas dan bahkan menurut analisa para ahli dan ilmuwan bahwa waktu itu Gunung Merapi akan meletus serta dalam keadaan yang membahayakan .
Lantas apa yang kita herankan…..?
Namun kita perlu tahu bahwa ketika Mbah Maridjan berjalan dia tidak mengenakan atau memakai alas kaki ( Ber telanjang kaki ).

merapi-3-copyKemudian apa hebatnya orang yang tidak memakai alas kaki ( bertelanjang kaki )…..?.
Mbah Marijan tidak memakai alas kaki disini adalah dimaksudkan agar menjadi lebih membumi , lebih merasai bumi .

Dan itu mungkin yang merupakan salah satu sebab dia berani untuk naik ke puncak Gunung Merapi, yang justru pada saat orang lain pada lari kebingungan untuk mengungsi,mencari tempat untuk berlindung dengan ketakutan.

Sebenarnya bukan berarti Mbah Maridjan melawan atau membangkang bahkan bukan pula sok berani namun lebih pada keteguhan serta keyakinanya yang iklas untuk memohon pada Allah SWT , berdoa untuk keselamatan masyarakat di sekitar Gunung Merapi.
Satu hal yang dapat kita ambil percontohan ketika Mbah Marijan yang tak memakai alaskaki tersebut menjadi seorang pemimpin sebuah Negara, maka dia tidak akan mengungsi dan lari menyingkir ketika akan terjadi ledakan ( ibarat marahnya rakyat kepada pemerintah karena gejolak ketidakpastian nasib bangsa ) ,tapi malahan Mbah Maridjan mendatangi sumber lahar tersebut dan kemudian meminta kepada Allah SWT untuk meredakan kemarahan rakyatnya serta berdoa memohon agar rakyatnya terhindar dari bencana,dengan tanpa mengenakan alaskaki (alasan yang membatasi antara pemimpin dengan rakyatnya)
Dalam wacana tertentu ketika kita tidak mengenakan alas kaki kita menjadi lebih merasai bumi tempat kita berpijak,lebih memahami bumi yang kita jadikan tempat ataupun media apapun dalam hidup kita.
Bagian tubuh seperti tangan dan kaki dari mbah Marijan selalu langsung melekat serta menyentuh langsung kebumi sementara kaki kita terhalang oleh alaskaki yang membatasi bagian tubuh kita dengan bumi.

merapi22Kaki tangan kita para orang yang mengaku terdidik dan modern dengan segala kelengkapan ilmu logika serta mengacu pada rasionalitas ini hampir selalu bersih, dan hampir tak pernah bersentuhan dengan bumi yang kita pijak , dengan sungguh-sungguh menyentuh bumi,baik dalam pemaknaan yang sesungguhnya maupun makna kiasanya kiasan..
Yah memang sekarang banyak sekali dari sebagian orang menghubung hubungkan dengan beberapa kesenangan melakukan gaya gaya Tarsan menjadi pecinta alam ,naik gunung,sepeda santai dan lain sebagainya dengan tujuan agar lebih merasakan kesejukan alam ,

Namun cara cara yang di tempuhnya sangat berbeda tetap saja kelihatan ‘palsunya’, bagaimana tidak sebab seluruh tubuh, kaki, tangan terbungkus rapi, dengan berbagai busana serta peralatan yang mahal harganya.
Gaya hidup serta cara pandang orang yang seolah pandai serta rasionalis ini memang beda dengan gaya Wong nDeso atau Wong Nggunung,yang tidak mengenakan alaskaki kerena sebuah kebiasaan dan keterbatasan.

Jadi bagaimana hendak memimpin jika kita tidak bisa membumi dan tak menanggalkan ARISTOKRAT ( sok tuan,Ningrat) yang jelas terbatasi untuk besosialisasi. di ambil dari http://www.gunungkelir.com

Pembaca blog Jurnal Batumarta OKU Timur yang terhormat, jika menurut kalian berita yang kami sajikan bermanfaat di share di Facebook atau Twitter ya, jangan lupa tuliskan komentar nya juga atau ingin mengucapkan sesuatu pada kami? mungkin pertanyaan, kritik, saran, sharing informasi atau berita apa saja? silahkan isi form komentar di bawah ini. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s