Mati Lampu


Seharian penuh saya tidak keluar rumah karena dua hari ini hujan mengguyur Batumarta VI dan sekitarnya menjelang sore hari tadi hujan mendera dengan di iringi angin dan petir yang menyambar nyambar.

Ada beberapa berita Banjir di sekitar kota Jakarta dimana saya dulu tinggal namun tak menimbulkan korban jiwa hanya saja ada beberapa kelurahan yang sempat terendam satu meter oleh meluapnya kali Ciliwung.

Setelah malam baru saya keluar sesat untuk mencari rokok ke warung desa lumayan kaget ketika mendapati jalanan yang sangat gelap gulita , terasa sekali berada di atas gunung dan di pelosok kampung yang jauh dari kota karena hanya 1 hingga 2 rumah yang saya lalui menyalakan lampu mengunakan genset.

Sesampai di warung tempat saya akan membeli rokok sempat terjadi sedikit obrolan tentang kenapa listrik di daerah kami mati ” rupanya karena salah satu tiang listrik yang berada di jalan poros talang langgar tanjakan blok K   Batumarta 6 tiang listrik tertimpa pohon “dalam benak saya kalau sudah masalahnya adalah kabel tiang yang roboh biasanya menghabiskan waktu berhari hari untuk memperbaikinya.

Nampak sekali ketergantungan masyarakat dan warga yang memiliki usaha tertentu nyaris lumpuh dan tidak bisa berproduksi di rumah karena alat alat yang mereka pakai menggunakan listrik semisal tukang kerajinan kayu yang biasa membuat mebeler dengan bantuan alat kerja listrik.

Mati lampu membuat saya ingat mengenai konsep listrik mandiri yang pernah di lontarkan kawan cendekia yang memiliki beberapa riset mengenai produksi listrik untuk rumahan hanya saja memang konsep tersebut memang membutuhkan biaya awal investasi yang lumayan untuk setiap satu alatnya dan itu pun juga belum teruji dalam hitungan jangka panjang apalagi untuk di produksi agar di nikmati oleh semua masyarakat yah walaupun mungkin tidak secara total lepas dari PLN namun mungkin memang bisa mengurangi kebutuhan daya pemakaian.

Ketergantungan serta kecenderungan kita untuk konsumtif memang tak bisa di bendung saya mengingat betul ketika jaman saya kecil dahulu hanya menggunakan dua lampu teplok (lampu minyak) dalam satu rumah yah untuk belajar di malam hari ataupun untuk menerangi satu rumah waktu itu terasa sangat terang dan terbiasa sekali.

Lain dulu lain sekarang bagi saya ketergantungan terhadap lampu ternyata sangat besar karena rumah saya jadi kelihatan seperti rumah hantu jikalau tanpa penerangan lampu apalagi untuk melongok kehalaman menjadi sangat menyeramkan jika tanpa outdor lighting karena listrik padam.

satu hal yang unik ketika daerah saya mati listrik kemudian rumah saya menjadi rame karena banyak tetangga yang berdatangan untuk nge cas (charge)  hp karena nyaris semua tetangga kehabisan batre sebegitu besar ketergantungan kita terhadap PLN.

Yah saya memang beruntung karena saya menggunakan Save Power One  Pembangkit Listrik Tenaga Aki rakitan saya sendiri, yang ramah lingkungan tidak berisik, tanpa asap dan tanpa bensin yang pengisian strum akinya menggunakan listrik dan bisa menggunakan panel tenaga surya. Aki yang saya gunakan sekarang 120 A yang sebelumnya menggunakan aki 32 A, sehingga mampu bertahan 18 jam (lama pemakaian sekitar 2 s/d 3 hari jika digunakan sesuai kebutuhan malam hari saja), karena listrik bagi saya penting dalam keseharian kerja saya dalam berkarya didunia Teknologi Informasi (Komputer) dan Elektronika, dari situlah saya hampir tidak pernah mengalami mati lampu yang berdurasi panjang karena Save Power One memiliki backup energi berkisar antara 1200 s/d 1800 watt selain digunakan buat lampu sebagai penerang rumah dan halaman dapat pula digunakan buat menghidupkan komputer, laptop, telivisi, sanyo, bor, playstation, dan buckup/penghemat energi listrik dll. Hal itu juga yang menguntungkan ketika saya hendak membangun rilay untuk ISP (Internet Service Provider ) karena ISP juga tak boleh mati listrik .

Tentu sangat sedih ketika kita memiliki banyak aktifitas yang bergantung terhadap PLN sementara sangat sering sekali PLN mati bahkan sampai berhari hari kalau di daerah pedesaan .

Atau sebenarnya hanya kita saja yang tercipta atas ketergantungan tersebut tanpa menyiasati atau mencari solusi untuk melepaskan ketergantungan terhadap PLN dalam artian berbeda saya membayangkan seandainya setiap desa mampu membangun listrik mandiri entah itu dari kincir angin atau bahkan tehnologi yang lain mungkin kita tak lagi bergantung pada PLN yang di garis oleh kebijakan tertentu.

Atau jika masing masing keluarga memiliki pembangkit listrik sendiri sekelas Save Power One (Pembangkit Listrik Tenaga Aki) atau tenaga surya (panel surya) mungkin tak akan mengalami mati lampu yang berarti tak mengalami mati aktifitas tanpa listrik.

Ah tapi mungkin ini masih mimpi saya saja yang entah akan menjadi nyata atau tidak yang penting saat ini rumah saya hampir tak akan mati lampu atau mati listrik dengan durasi yang panjang.

Kalau saya ingin menikmati mati lampu tinggal melongok ke tetangga yang gelap gulita karena tidak jauh letak rumah saya dengan tetangga seandainya semua tetanggaku dekat mereka tentu juga menikmati terangnya lampu rumahku.

Selamat menikmati mati lampu

Pembaca blog Jurnal Batumarta OKU Timur yang terhormat, jika menurut kalian berita yang kami sajikan bermanfaat di share di Facebook atau Twitter ya, jangan lupa tuliskan komentar nya juga atau ingin mengucapkan sesuatu pada kami? mungkin pertanyaan, kritik, saran, sharing informasi atau berita apa saja? silahkan isi form komentar di bawah ini. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s