Menengok Motivasi Anak Dalam Dunia Pendidikan


Pendidikan merupakan prasyarat yang diperlukan oleh setiap generasi baru, guna menyongsong masa depan mereka. Banyak orang tua yang berupaya keras tanpa kenal lelah dan tanpa mengenal waktu untuk memberikan fasilitas yang baik bagi pendidikan anaknya. Namun, apakah kerja keras orang tua tersebut dapat dipahami sang anak?dengan kata lain, apakah sang anak kemudian menyambut keringat orang tua itu dengan memberikan hasil terbaik dari pendidikan itu?Nampaknya kita patut merenungkan problematika dunia pendidikan bagi generasi penerus kita.

Ada kalimat bijak yang sering disandarkan kepada Nabi SAW, “Carilah ilmu walau pun sampai negeri Cina“. Kalimat ini memiliki makna yang begitu mendalam, bahwa mencari ilmu merupakan proses pencarian itu sampai ke negeri yang jauh sekalipun. Kewajiban mencari ilmu pengetahuan ini juga merupakan hal yang sudah dimaklumi sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadits Ibnu Majah, “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimat).”
Dari sini, orang tua berlomba-lomba mencari tempat atau lembaga pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.bahkan, tidak jarang mereka harus memberangkatkan anaknya keluar negeri, guna memperoleh tempat yang superlengkap atau super istimewa bagi pendidikan sang anak. Padahal output atau hasil yang dicapai pun juga masih menjadi hal yang tidak menjamin, bahwa pendidikan diluar negeri itu akan lebih baik dari negeri sendiri. Banyak hal dan faktor yang melatarbelakangi keberhasilan atau ketidak berhasilan pendidikan yang diberikan kepada sang anak. Belum lagi persoalan biaya pendidikan yang semakin hari semakin memberatkan dan membumbung tinggi. Hal ini tidak sebanding dengan standar pendapatan rata-rata penduduk di Negara Indonesia yang sedang dilanda berbagai kesulitan dan krisis, terutama dibidang ekonomi dimana saat ini masyarakat Indonesia akan mengalami kenaikan harga-harga kebutuhan yang dipicu kenaikan BBM yang akan berlaku awal april nanti.

Memang untuk mendapatkan fasilitas dan sarana pendidikan yang memadai, sudah pasti memerlukan tambahan biaya yang tidak sedikit dan pada gilirannya harus dipikul secara bersama-sama, baik oleh pihak lembaga pendidikan maupun oleh orang tua atau masyarakat. Dilema ini memang membutuhkan solusi yang bijak atau win-win solution, sehingga dapat menemukan jalan keluar yang terbaik bagi masa depan generasi penerus bangsa.

Ahmad Amin, seorang cendekiawan Mesir memberikan gambarandan klasifikasi kelompok peserta didik yang merantau, baik keluar negeri maupun mereka yang keluar kota untuk mendapatkan pendidikan terbaiknya. Gambaran tersebut nampaknya layak untuk kita renungkan, terutama berkenaan dengan motivasi anak dalam melihat realitas dunia pendidikan yang mereka jalani.
Pertama, Kelompok peserta didik yang menganggap bahwa kepergiannya keluar daerah asalnya adalah untuk meraih kebebasan yang selama ini tidak mereka dapatkan ketika tinggal bersama orang tuanya. Kepergiannya keluar kota adalah untuk memperoleh kebebasannya secara penuh, tanpa terkontrol oleh pihak manapun, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan dimana mereka tinggal. Tipe kelompok ini lahir akibat ketatnya ruang gerak pada saat berada dan tinggal bersama orang tua dikampung asalanya. Mereka dapat berbuat sekehendak mereka sendiri, tanpa ada yang mengawasi dan membatasinya lagi. mereka hanya melihat bahwa di hadapannya terdapat berbagai hiburan dan beragam kesenangan. Ditambah lagi, rata-rata kota besar, lebih-lebih diluar negeri memiliki segudang tempat yang menjanjikan kebebasan dan kesenangan itu. Kelompok ini seperti tenggelam dalam kenikmatan dunia yang hanya semu.
Mereka memberikan semua harta, pikiran, dan waktunya hanya untuk menggapai kebebasan dan kesenangan. Dunia pendidikan yang dijalaninya bukan menjadi tempat belajar, tetapi hanyalah sebagai sarana formalitas belaka. Mereka berusaha mendapatkan uang saku dari orang tua, beasiswa dan dari manapun, hanya untuk memperoleh tujuannya, alasan membeli buku atau alasan rasional lainnya, padahal yang mereka lakukan justru hanya untuk bersenang-senang, membeli pakaian, dan kemewahan lain. Hingga akhirnya terjadilah peristiwa yang menyedihkan, pulang kampung tanpa membawa ilmu dan perubahan tingkah laku positif. Jiwa mereka telah rusak, hatinya mati, ilmunya hilang, dan moralnya hancur.
Kedua, kelompok yang sebaliknya dari pertama. Mereka adalah peserta didik yang mencurahkan seluruh waktu dan segenap pikirannya hanya untuk belajar. Sampai-sampai meski mereka tinggal diluar kota atau luar negeri sekalipun, mereka hanya mengetahui kamar tempat tinggal, buku-buku, perguruan tinggi (lembaga pendidikan), dan jalan dari kamar ke kampus. Mereka tidak ubahnya hanya pindah tempat, dari kampung ke kota besar atau ibarat katak dalam tempurung. Mereka memang mendapat nilai terbaik, dan gelar akademik, tetapi ada yang terlupakan, yakni proses mencari pengalaman dan bersosialisasi dengan masyarakat dan kondisi luar kota yang menjadi bagian dari hidupnya. Dengan kata lain, mereka termasuk sukses mencapai kemajuan ilmu dan berfikir, tetapi tidak membuka hatinya, sehingga tidak mencapai kemajuan jiwa.
mereka tidak mendapatkan pengetahuan lain tentang kehidupan masyarakat diluar negeri, dikota besar, yang dapat diambil sebagai pelajaran yang bermanfaat bagi perubahan tatanan masyarakat didaerah asal atau kampung halamannya. Seolah-olah mereka tidak pernah ke luar daerah atau sama saja dengan yang tidak ke luar daerah. Mereka hanya bisa bekerja ditempat yang telah disiapkan, tanpa banyak memiliki daya kreativitas untuk membuat lapangan dan lahan baru.
Ketiga, kelompok peserta didik ini telah memahami tujuan dan misi kepergiannya ke luar daerah atau keluar negeri, yakni mencari ilmu pengetahuan dan juga mempelajari pola kehidupan kota atau daerah baru yang ditempatinya. Mereka pergi untuk memperoleh gelar dan prestasi brilian dibidang akademik, dan mendapatkan hal lain yang lebih tinggi dari pada sebatas gelar dan prestasi akademik, yakni mempelajari kehidupan sosial diluar daerah asalnya. Dengan modal ini, mereka akan memahami rahasia kesuksesan, kehebatan, kekuatan dan kelemahan yang ada pada warga masyarakat baru yang ditempatinya, masyarakat yang kompleks dengan berbagai latar belakang yang berbeda.

Dengan cara ini, mereka dapat menemukan hal baru yang dapat ditransformasikan (disebarkan) kepada daerah asal atau kampung halaman, sehingga mereka mengetahui hal yang layak untuk diterapkan ditempat asalnya. Dengan mata dan hati yang terbuka, mereka mendapatkan pelajaran dari jalanan, taman, tempat-tempat umum, realitas kehidupan, dan hal lainnya. Mereka menganggap bahwa segala yang nampak itu merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dengan demikian, jiwa mereka mengalami pembaruan, hati mereka hidup dan kemampuan diri mereka mengalami peningkatan sehingga menjadi sosok manusia baru. Saat kembali ke kampung, mereka membawa oleh-oleh berupa ilmu pengetahuan yang banyak dan pengalaman yang matang. Seorang yang memiliki kekuatan diri dan kepribadian akan dapat menguasai dirinya dan dapat merubah keadaan serta tidak mudah terbawa arus.

Beberapa model dan klasifikasi diatas hanyalah upaya untuk direnungkan, sehingga generasi penerus yang kita harapkan itu akan sampai pada tempat yang terbaik sesuai dengan cita-cita dan harapan kita semua. Dan tulisan ini hanyalah sebuah renungan penulis, dimana selama dalam mengenyam pendidikan tidak pernah memanfaatkan waktu dan peluang yang ada didepan mata untuk menjadikan penulis sebagai orang yang membawa perubahan dimasyarakat, dan memang dirasa penulis waktu mengenyam pendidikan lebih kepada arah economic oriented, dan hal ini terjadi karena penulis berasal dari keluarga yang tidak berada dan penulis mengenyam pendidikan karena beasiswa dan dari usaha sendiri, dan mudah-mudahan hal ini tidak terjadi pada generasi penerus kita. amin

Pembaca blog Jurnal Batumarta OKU Timur yang terhormat, jika menurut kalian berita yang kami sajikan bermanfaat di share di Facebook atau Twitter ya, jangan lupa tuliskan komentar nya juga atau ingin mengucapkan sesuatu pada kami? mungkin pertanyaan, kritik, saran, sharing informasi atau berita apa saja? silahkan isi form komentar di bawah ini. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s