MERUBAH PARADIGMA KAWASAN TRANSMIGRASI SEBAGAI TRANSMIGRATION ESTATE


 

MERUBAH PARADIGMA

 KAWASAN TRANSMIGRASI

SEBAGAI TRANSMIGRATION ESTATE

 

Oleh :

Bambang Sugestiyadi

 

Mahasiswa S-3 PTK Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Kampus Karangmalang – Yogyakarta 55281, E-mail : bsugestiyadi@gmail.com , HP : 08174124757

Telepon : (0274)586168 (0274)540715,586734

 

Abstract

 

Program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah  abad, pada awalnya merupakan upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa. Program Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan secepat-cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Mimpi dan imajinasi saya tentang kawasan transmigrasi adalah sebagai suatu kawasan yang dikelola dalam konsep “ Agro District “ , dikembangkan dengan pendekatan Arsitektur pola tata ruang “ Pertanian Moderen “ . Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Gaya hidup sehat dengan slogan “ Back to Nature “ telah menjadi trend baru

Program Transmigrasi harus didekati dengan konsep ” teknologi ” yang ” ramah lingkungan ”. Kawasan ditata dengan model  “ Transmigration Estate “, dikembangkan sebagai  kawasan  pertanian organik  dalam suatu manajemen ” Agro District ”  secara nasional Konsep Transmigration Estate merupakan pilot project Nasional yang  akan direncakana dan dikelola dalam bentuk konsorsium antar Perguruan Tinggi.  Diawali dari Inventarisasi Program Transmigrasi, dan didekati dengan konsep Teknologi Agro District, Manjemen Agro Distrik, Rancangan Arsitektur tata ruang Agro District. Selanjutnya diatur konsep legal-formal bidang pertanahan dan model pengelolaan investasi dan pembangunan Transmigration Estate.

Diharapkan dengan pengembangan model  ini dapat membangun suatu ” image” baru , bahwa program transmigrasi adalah suatu kawasan pertanian organik  yang ramah lingkungan dengan  perilaku moderen , dengan citra “ elite “, yang dikelola dalam suatu manajemen  “Agro District “  Kegiatan perekonomiannya  dengan basis utama pada sektor pertanian organik, peternakan, perikanan dan industri kecil pengolahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan

 

 

Key Word  : Transmigration , image ,Transmigration Estate

 

 

PENDAHULUAN

 

                Program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah  abad, pada awalnya merupakan upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa. Program Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan secepat-cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses degradasi lahan.

Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah, sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia  dalam bidang teknologi  sektor pertanian, Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan  perkembangan masyarakat dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan  berkembangnya budi-daya komoditas pertanian yang “ ramah “ terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan “ Back to Nature “ telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia merupakan negara yang sangat potensial untuk mengembangkan produk organik. Negara kita memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat Indonesia yang menghormati alam. , potensi pertanian organik sangat besar untuk dikembangkan . Untuk meningkatkan produksi pertanian organik pemerintah Indonesia telah meluncurkan program Go Organic 2010.

Kawasan Transmigrasi merupakan salah satu  “ komoditas unggulan “ dan “ modal dasar “ dari bangsa Indonesia untuk dikembangkan sebagai salah satu  “ komoditas ekonomi “  dalam  memasuki era pasar bebas. Pendekatan penyelenggaran Program Transmigrasi yang “ konvensional “, yang terkesan “ manual “ , harus segera ditinggalkan,  Program Transmigrasi harus  didekati dengan konsep ” teknologi ” yang ” ramah lingkungan ”. Adaptasi rekayasa teknologi yang bermanfaat bagi pengelolaan Program Transmigrasi akan dapat merubah “ wajah “ penampilan   program transmigrasi. Kawasan ditata sebagai “ Transmigration Estate “ yang berbasis  pada  “ Agro Industri “ yang ramah lingkungan

IMAJINASI

 

Tulisan ini akan saya awali dari sebuah ‘ imajinasi “ saya tentang  kawasan transmigrasi dimasa mendatang sebagai sebuah kawasan Transmigration Estate “. Kawasan pemukiman transmigrasi digambarkan sebagai sebuah kawasan  “ Agro District “ yang dikelola dengan manajemen “ Pertanian Moderen “, bertumpukan pada kemajuan teknologi yang memperhatikan terhadap pelestarian lingkungan

                Silo-silo pengolahan dan penyimpanan pupuk pertanian ‘ non pestisida “ merupakan pemandangan yang menonjol pada kawasan transmigrasi. Gudang-gudang bibit pertanian dan lumbung hasil pertanian berdiri kokoh dalam lingkungan komunitas permukiman. Bentuk rumah ‘ country” sebagai rumah para transmigran berdiri kokoh dan asri dengan dihampari oleh tanaman bunga, buah dan tanaman obat-obatan, yang sangat artistik. Mobil “ caravan “ bak terbuka milik para transmigran tampak hilir mudik disekeliling areal pertanian yang membentang luas tanpa ada lagi ‘ batas lahan ‘ kepemilikan. Derungan mesin-mesin  pengolahan lahan pertanian dan mesin-mesin pengangkut hasil pertanian tampak hilir mudik mengelilingi kawasan pertanian. Diangkasa terlihat melayang-layang pesawat kecil terbang rendah yang sedang menaburkan benih, dan menaburkan pupuk pertanian. Pada sisi lain di kawasan lembah dengan keteduhan tanaman keras industri terlihat ” rumah kaca ” tempat pembibitan buah-buah-an dan tanaman pangan dengan sistim ’ rekayasa genetika”. Dibalik bukit yang lain  yang rimbun dengan pepohonan  buah-buah-an terbentang danau buatan dengan gemericiknya aliran air dan sayup-sayup terdengar suara generator pembangkit listrik , yang merupakan pengolahan sumber daya energi listrik  dari air danau. Kapal-kapal boat kecil tampak hilir mudik di dermaga pelabuhan, dengan tawa ceria para penumpang yang sedang berekreasi dan memancing ikan   mengelilingi danau yang indah dan bersih. Sepanjang aliran irigasi yang melingkari kawasan pertanian terdapat empang-empang pemeliharaan  dan  penangkaran  pembibitan ikan. Pada bagian lain  berdiri bangunan  kandang-  kandang peternakan unggas, kambing, sapi potong dan sapi perah. Dalam lingkungan kawasan transmigrasi juga berdiri megah  industri kecil  pabrik  pengolahan hasil peternakan, perikanan  dan pertanian.  Keterpaduan  antara hasil produksi pertanian, perikanan  dan peternakan dengan  pengolahan hasil pas-ca panen memberikan suasana proses integrated suatu .kawasan “ Agro District “, kawasan yang ditunjang oleh kehidupan pertanian moderen.

Disisi bukit yang lain terbentang taman-taman rekreasi dengan bangunan sekolah dari tingkat taman kanak-kanak (TK) , Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat  Pertama (SLTP) sampai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Fasilitas pendidikan ini merupakan pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang telah dibiasakan pada kehidupan pertanian moderen, mereka merupan  generasi penerus bagi berlangsungnya kehidupan di kawasan “ Agro District “ ini. Di pusat kota , terlihat hilir mudik para transmigran yang berbaur dengan para ‘ konsultan asing “  pada pusat transaksi dan perkantoran . Pada dermaga  pelabuhan kecil di kawasan ini berlabuh kapal ” cargo ” yang akan memuat hasil panen dan olahan industri kecil. Mobil truk berjajaran dengan muatan peti-peti  kemas yang mengangkut hasil olehan industri kecil peternakan, perikanan dan pertanian untuk di ” ekspor ”

Mimpi dan imajinasi saya tentang kawasan transmigrasi adalah sebagai suatu kawasan Transmigration Estate “. yang dikelola dalam konsep “ Agro District , dikembangkan dengan pendekatan pola tata ruang suatu “ Pertanian Moderen “  Kegiatan perekonomian dengan basis utama pada sektor pertanian, peternakan, perikanan dan industri kecil pengolahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan.

 

KILAS BALIK PROGRAM TRANSMIGRASI

 Transmigrasi sengaja dipilih oleh Bung Hatta dalam rangka memberi pengertian terhadap program pemerintah dalam memindahkan penduduk yang melewati laut dari daerah padat ke daerah yang jarang penduduknya, untuk meraih kesejahteraan, yang bersangkutan, dalam hal ini adalah perpindahan penduduk dari Jawa ke luar Jawa. (Balitbang, 2002).  Bung Karno pernah melontarkan istilah transmigrasi pada saat memindahkan penduduk Jawa (Kedu) yang telah padat keluar jawa (Ramadhan et al 1993). Egbert de Vries, menyebut istilah transmigrasi pada saat beliau melakukan tugas-tugas pencarian tanah untuk permukiman transmigrasi di Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara oleh Departemen Urusan Ekonomi Belanda pada tahun 1938  ( Swasono dan Singarimbun, 1985).

Citra penyelenggaraan program transmigrasi sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan dan pelaksanaannya. Dalam pelaksanaannya telah banyak keberhasilan yang dilakukan, namun demikian disana-sini masih ada kekurang berhasilannya. Keberhasilan pembangunan transmigrasi, selama kurun waktu 50 tahun telah berhasil membangun 2,587 desa baru eks Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) yang telah diserahkan kepada Pemerintah Daerah, dan masih ada 467 UPT yang masih dalam pembinaan (Balitbang,2002).  Sejumlah desa transmigrasi mampu berkembang pesat dan berubah menjadi kota. Hingga saat ini terdapat 44 kota kecamatan yang tersalur di 15 propinsi yang dahulunya merupakan desa transmigrasi. Lebih jauh lagi, ada 23 desa transmigrasi di 13 propinsi telah berubah menjadi ibukota kabupaten atau kotamadya. Disamping itu juga memberikan kontribusi pembangunan areal pertanian, perkebunan, prasarana dan sarana fisik serta fasilitas umum. Diakui dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses degradasi lahan. Kelemahan-kelemahan ini secara langsung atau tidak langsung menutupi keberhasilan yang telah dicapai. Oleh karena itu perlu pencermatan yang mendalam berbagai aspek munculnya kelemahan tersebut mulai dari perencanaan, pembangunan permukiman, rekruitmen dan seleksi calon transmigran, dan pemberdayaan masyarakatnya. (Program Pasca Sarjana IPB, 2003)               Menurunnya kualitas lahan pertanian di Indonesia akibat proses degradasi lahan . erosi, residu bahan kimia seperti herbisida dan pestisida, dan pencemaran logam berat. Penurunan produktivitas pertanian Indonesia berbanding terbalik dengan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Apabila kondisi tersebut di atas tidak mengalami perbaikan yang signifikan, memperkirakan pada tahun 2010 Indonesia akan mengimpor beras sebanyak 1,5 juta ton. (Didiek Hadjar Goenadi,2003)

  Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan “ Back to Nature “ telah menjadi trend baru,  meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik

Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia merupakan negara yang sangat potensial untuk mengembangkan produk organik. Negara kita memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat Indonesia yang menghormati alam. , potensi pertanian organik sangat besar untuk dikembangkan . Lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi pertanian organik di Indonesia masih sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000) .Ketersediaan lahan tersebut menjadi keunggulan komparatif Indonesia untuk bersaing di pasar internasional. Lagipula teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah dikuasai para petani,

Program transmigrasi kita menjadi tidak menarik karena hanya merupakan pemindahan penduduk dari desa  ke desa saja. Seperti tidak ada penigkatan taraf hidup yang layak. Karena itu perlu dikembangkan : “Agricultural Industry Oriented “ di luar Jawa (Sri Pamoedjo Rahardjo, 1984). Pendekatan konsep penyelenggaraan Transmigrasi pradigmanya harus berubah, sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi  dunia dan perkembangan budi-daya dalam sektor pertanian, dalam bidang teknologi  rekayasa genetika. Disamping itu masyarakat dunia mulai sadar tentang pelestarian lingkungan  dengan “ back to nature “  kecendrungan  berkembangnya budi-daya   komoditas pertanian yang “ ramah “ terhadap lingkungan. Salah satu kunci sukses untuk dapat memasuki era pasar bebas, suatu negara harus memiliki komnoditas “ Unggulan “ yang dapat bersaing kompetitif dalam  perdagangan dunia. Kawasan Transmigrasi merupakan salah satu  “ komoditas unggulan “ dan “ modal dasar “ bangsa Indonesia  Kawasan Transmigrasi harus dikembangkan sebagai  kawasan  pertanian organik  dalam suatu manajemen pengeloaan   ” Agro District ”  secara nasional.

PENGEMBANGAN Transmigration Estate  

 

A.   Landasan Konsepsual

 

 Pengembangan program transmigrasi  sebagai kawasan pertanian organik  dalam manajemen pengeloaan  secara nasional.,  didekati berdasarkan  konsep Amanat GBHN (Garis Garis Besar Haluan Negara) tahun 1999 – 2004, Bab IV B, tentang arah kebijakan pembangunan nasional dalam pengembangan  Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup , sebagai berikut :

1)       Kawasan transmigrasi dengan segala habitat didalamnya merupakan “ Modal Dasar “ dan sebagai “ Komoditas Unggulan “ untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian organik dengan  manajemen pengeloaan   “ Agro District “ secara nasional . Model pengembangan dengan pola “ sinergi “ dan kerjasama  “ investasi “ antara “  pemerintah “  dan “ swasta “ dalam negeri dan atau luar negeri.

2)       Kawasan transmigrasi dengan segala habitat didalamnya, dikembangkan dengan model “ Transmigration Estate “, dengan basis utama kegiatan ekonomi pada sektor pertanian, peternakan, perikanan dan industri kecil pengolahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan. Kawasan Transmigrasi dikembangkan sebagai  kawasan  pertanian organik   dalam suatu manajemen pengeloaan   ” Agro District ”  secara nasional. Model pengermbangan “ Transmigration Estate “, dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan, dengan di prioritaskan pengembangan pada daerah transmigrasi yang saat ini pada kondisi “ gagal “ dan atau merupakan pengembangan daerah transmigrasi  “ baru “, sebagai “ pilot project “ nasional

3)       Kawasan “ real ertate “ telah dikenal orang sebagai salah satu model penataan kawasan pemukiman di perkotaan. Merupakan kawasan pemukiman “ elite “ yang siap huni dengan  berupa rumah tinggal beserta kelengkapan fasilitas sarana , prasaran fisik, seperti akses jaringan jalan lingkungan yang mulus, indah dengan taman-taman, are rekreasi dan bermain.,  jaringan telepon, listrik ,  fasilitas perdagangan dan pendidikan Model “ real etate “ akan diadopsi dalam penataan kawasan transmigrasi dengan model “ Transmigration estate “. Tujuan pengembangan model  ini adalah :  “ Untuk menghapuskan image tentang program transmigrasi yang identik dengan kesengsaraan, petani kumuh, kemiskinan dan keterbelakangan, pemindahan kemiskinan. Dengan membangun suatu image , bahwa program transmigrasi adalah suatu kawasan pertanian organik  yang ramah lingkungan dengan  perilaku moderen , dengan citra “ elite “, yang dikelola dalam suatu manajemen Agro District “

B. Tujuan dan Sasaran Program 

       

Pengembangan  kawasan Transmigrasi sebagai kawasan Transmigration Estate  dengan tujuan dan sasaran sebagai berikut :

1)       Tujuan Program :

a)       Menjadikan Kawasan Transmigrasi sebagai kawasan Transmigration Estate  untuk dikembangkan sebagai kawasan yang menghasilkan komoditas unggulan dalam rangka Go Organic 2010.

b)   Kawasan Transmigrasai merupakan kawasan “ Pilot Project “ nasional dalam  kegiatan perikanan ,peternakan dan pertanian  organik

c)   Kawasan  “ Agro District “ yang dikembangkan dengan model  Transmigration estate , dapat dipergunakan sebagai  studi banding dan paraktek lapangan di laboratorium  budi – daya pertanian organik. bagi para mahasiswa dan aparat PEMDA  untuk dapat dikembangkan di daerah lain.

2)       Sasaran  Program :

a)   Sasaran  pengembangan model “ Transmigration estate “ diperuntukkan bagi transmigran umum,  swakarsa, dan atau para sarjana dari semua bidang studi, yang berminat untuk membangun perdesaan.. Merupakan salah satu solusi dalam menanggulangi penganguran “ intelek “

b)    Sasaran  pengembangan model “ Transmigration estate “  dalam konsep “ Agro District “, untuk menghasilkan produk  perikanan, peternakan dan pertanian organik, dengan sasaran sebanyaknya memenuhi kebutuhan pasar nasional dan  untuk konsumsi ekspor.

c)   Sasaran  pengembangan model “ Transmigration estate “  dalam konsep “ Agro District “, sebagai contoh nyata “ Produksi Dalam Negri “ yang dapat menembus “ Pasar Ekspor “  Merupakan wujud nyata uji  kemampuan putra-putri bangsa Indonesia untuk bangkit dan mengembangkan budi-daya perikanan, peternakan dan pertanian  organik

d)   Campur tangan dan kerjasama tingkat ASEAN,  Amerika , Australia dan   Eropa  dibatasi dalam bantuan dana investasi, alih teknologi dan kerjasama  “ akses “ pemasaran  ekspor

C.  Kegiatan Perencanaan dan Pengelolaan

Usia kemerdekaan Indonesia yang telah melewati setengah abad, merupakan usia dari suatu bangsa yang harus menunjukkan kemandirian, harus mampu menghasilkan produk yang benar-benar nyata dan  menyentuh harkat hidup masyarakat Indonesia secara luas. Keunggulan sektor pertanian  perikanan dan peternakan , merupakan pilihan komoditas  utama yang harus dikembangkan bagi kemakmuran rakyat seluas-luas-nya. Pada dekade masa mendatang seharusnya tidak lagi terdengar tentang kelangkaan bahan pangan, resesi pangan, kelangkaan pupuk, import bahan pangan . Kita sebagai bangsa yang memiliki  modal   dasar   yang potensial berupa Sumber Daya Alam (SDA)  dengan berbagai komoditas pertanian pangan , buah-buah-an yang  spesifik tropis, perlu segera diberdayakan bagi kemakmuran rakyat se-luas-luas-nya.  Salah satu modal dasar yang telah kita miliki yang dapat dikembangkan sebagai kawasan produsen ,  penghasil  komoditas unggulan pertanian organik adalah  kawasan transmigrasi dengan segala habitat didalamnya.

Kemandirian bangsa Indonesia dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA) harus segera dibuktikan. Kawasan transmiigrasi sebagai modal dasar utama, untuk dikembangkan sebagai Lumbung Nasional dengan model Transmigration Estate., merupakan kawasan yang dikelola dalam manajemen  Agro District . Basis utama kegiatan ekonomi pada sektor pertanian, peternakan, perikanan dan industri kecil pengolahan hasil pertanian, perikanan dan peternakan. Berdasarkan landasan konsepsual  tersebut diatas , tahapan  kegiatan perencanaan  Program  Transmigration Estate  yang akan dikembangkan sebagai Lumbung Nasional  adalah sebagai berikut :

a)       Inventarsisasi Program transmigrasi  aspek Sosekbud dan  Teknis

b)       Evaluasi Program transmigrasi yang kurang behasil dan gagal

c)       Proyeksi pengembangan program transmigrasi untuk 5-10 tahun

d)       Inventarisasi daya dukung lahan dan pengembangan komoditas

e)       Tahapan dan prioritas pengembangan kawasan transmigrasi

f)         Rancangan rekayasa teknologi kawasan Agro District

g)       Rancangan manajemen pengelolaan Agro  Distrct

h)       Rancang Arsitektur kawasan Transmigration Estate

i)         Legal – Formal bidang pertanahan

j)         Model investasi dan pembangunan kawasan Transmigration Estate

 

Sebagai bukti nyata kemandirian bangsa Indonesia dan sebagai contoh nyata “ Produksi Dalam Negri “ yang dapat menembus “ Pasar Ekspor “  Program ini akan dilaksanakan sepenuhnya oleh tenaga ahli putra –putri Indonesia, dengan melibatkan beberapa Perguruan Tinggi yang mempunyai kompetensi pada bidang  diatas.  Pengembangan kawasan transmigrasi dengan model Transmigration Estate senagai Lumbung Nasional bagi bangsa Indonesia, merupakan pilot project Nasional yang  akan dilaksnakan dalam bentuk konsorsium antar Perguruan Tinggi.

 Keterlibatan Perguruan Tinggi  sesuai dengah kompetensi  bidang ilmunya akan disusun sebagai berikut :

Tabel. 1.  Konsorsium Perguruan Tinggi

No.

Bidang Kegiatan

Perguruan Tinggi

1.

Inventarsisasi  dan Evaluasi program transmigrasi

UGM

2.

Inventarisasi daya dukung lahan dan pengembangan komoditas

IPB

3.

Rancangan rekayasa teknologi kawasan Agro District

ITB  &  IPB

4.

Rancangan manajemen pengelolaan Agro  Distrct

IPB

5.

Rancanagan bangun kawasan Transmigration Estate

ITB

6.

Model investasi dan pembangunan kawasan Transmigration Estate

UGM & UI

7.

Pengembangan  pendidian di  kawasan Transmibration Estate

UNY

8.

Legal – Formal bidang pertanahan

UI

9.

Tahapan dan prioritas pengembangan kawasan transmsmigrasi

UGM , ITB, IPB dan UI

Program pengembangan transmigrasi dengan model Transmigration Estate sebagai kawasan yang akan dikembangkan sebagai Lumbung Nasional bagi bangsa Indonesia  akan dikelola  sebagai Pilot – Projekct  Nasional dengan melibatkan instansi antar  departemen  sebagai berikut :

  1. Lembaga Kepresidenan dan Sekretariat Negara selaku Koordinator Program Lumbung Nasional
  2. Departemen Transmigrasi dan Tenaga Kerja
  3. Departemen pertanian, kehutananan dan tanaman pangan
  4. Departemen Koperasi dan PNPM Mandiri
  5. BAPPENAS
  6. Departemen Keuangan
  7.  Kementrian Hukum  dan HAM bidang Pertanahan
  8. Kadin (Kamar Dagang dan Industri)
  9. Konsorsium Perguruan Tinggi,  UGM,  ITB, IPB, UI, dan UNY

Berdasarkan rincian kegiatan diatas, maka kegiatan tahapan perencanaan dan  pengelolaan dapat diuraikan dengan skema sebagai berikut :

 

Skema Perencanaan Kawasan Transmigration Estate

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bambang Sugestiyadi, 1994, Pengaruh Tradisi Asal Terhadap

        Perkembangan Fisik Rumah Transmigran, Studi Kasus :

        Permukiman Transmigrasi Di Bangkinang-A, SP-III, Propin-

        si Riau, Desertasi Tesesi Pasca Sarjana S-2, Arsitektur-UGM

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Indonesian Agency for Agricultural  Research and Development). Hak Cipta © 1997-2009 Jl. Ragunan 29 Pasar Minggu Jakarta Selatan 12540, IndonesiaTelp. (021) 7806202 Fax. (021) 7800644 e-mail: info

 

Didiek Hadjar Goenadi,2003 APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM UPAYA PENINGKATAN EFISIENSI AGRIBISNIS YANG BERKELANJUTAN Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pendekatan Kehidupan Pedesaan dengan Perkotaan dalam Upaya Membangkitkan Pertanian Progresif, UPN “Veteran” Yogyakarta , 8 – 9 Desember 2003

INFORMASI PERTANIAN DAN PERIKANAN, 2008, Pertemuan AMAF ke 30 dan AMAF+3 ke 8 di Hanoi

Nindyo Suwarno, 1990, Transmigration Built From And Etnicity, A case study on Transmigration Settlement Development in Belitang, Sumatera Selatan, Indonesia, Desertation, University of New Castle Upon Tyne.

Nindyo Suwarno, 1994, Towards Culturally Based Village For Balines Transmigrant in Indonesia, A case study of Seputih Raman Sumatera , Indonesia. Desertation University of New Castle Upon

Pembaca blog Jurnal Batumarta OKU Timur yang terhormat, jika menurut kalian berita yang kami sajikan bermanfaat di share di Facebook atau Twitter ya, jangan lupa tuliskan komentar nya juga atau ingin mengucapkan sesuatu pada kami? mungkin pertanyaan, kritik, saran, sharing informasi atau berita apa saja? silahkan isi form komentar di bawah ini. Terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s